Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat

Vol. 1, No. 1, April 2022

https://jurnalkesmas.co.id

 

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR, BEBAN KERJA FISIK TERHADAP PERASAAN KELELAHAN KERJA PADA PERAWAT RAWAT INAP KELAS 3 DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING

 

Hanjar Luluk Wijanarti, Tesha Dwi Ayu Anisyah

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Email: hanjarluluk@gmail.com

 

Abstrak

Latar Belakang: Gangguan tidur merupakan salah satu efek kesehatan dan keselamatan yang dapat terjadi pada pekerja. Akibat dari gangguan tidur yang berkepanjangan akan dapat merubah siklus tidur biologiknya, daya tahan tubuh dan prestasi kerja akan menurun, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur, beban kerja fisik terhadap perasaan kelelahan kerja pada perawat rawat inap kelas 3 di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 44 perawat menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yaitu kuesioner dan pengukuran denyut nadi. Analisis data dengan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Berdasarkan hasil analisis data menunjukan bahwa ada hubungan antara kualitas tidur dengan perasaan kelalahan kerja karena (P value = 0.001<0.05), ada hubungan antara beban kerja fisik dengan perasaan kelelahan kerja karena (P value = 0.009<0.05). Kesimpulan: Ada hubungan antara kualitas tidur, beban kerja fisik terhadap perasaan kelelahan kerja pada perawat rawat inap kelas 3 di RS PKU Muhammadiyah Gamping.

 

Kata Kunci: Perasaan kelelahan kerja; kualitas tidur; beban kerja fisik.

 

Abstract

Background: Sleep disturbance is one of the health and safety effects that can occur to workers. As a result of prolonged sleep disorders will be able to change the biological sleep cycle, endurance and work performance will decrease, irritability, depression, lack of concentration, fatigue, which can ultimately affect the safety of yourself or others. The purpose of this study was to determine the relationship between sleep quality, physical workload on the feeling of work fatigue in grade 3 inpatient nurses at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. Research Methods: This type of research is quantitative research with observational analytic research design with cross sectional approach. The number of samples was 44 nurses using purposive sampling technique. The research instruments were questionnaires and pulse measurements. Data analysis with univariate analysis and bivariate analysis using chi-square test. Results: Based on the results of data analysis showed that there is a relationship between sleep quality and the feeling of work overruns because (P value = 0.001 <0.05), there is a relationship between physical workload and feelings of work fatigue due to (P value = 0.009 <0.05). Conclusion: There is a relationship between sleep quality, physical workload on the feeling of work fatigue in nurses in class 3 in PKU Muhammadiyah Gamping Hospital.

 

Keywords: Feelings of work ties; sleep quality; physical workload

 


Pendahuluan

Undang-Undang Republik Indonesia No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, menyebutkan Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan salah satu tempat kerja dengan risiko tinggi keselamatan dan kesehatan kerja1. Berdasarkan data PPSDM tahun 2017 jumlah SDM Kesehatan di Indonesia 1.149.437 orang (Kemenkes, 2018).

Gangguan tidur merupakan salah satu efek kesehatan dan keselamatan yang dapat terjadi pada pekerja. Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cenderung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Akibat dari gangguan tidur yang berkepanjangan akan dapat merubah siklus tidur biologiknya, daya tahan tubuh dan prestasi kerja akan menurun, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain (Japardi, 2002).

Bahwa lebih dari 60 % pekerja yang datang ke poliklinik perusahan mengeluh adanya perasaan kelelahan kerja. Perasaan kelelahan kerja merupakan gejala yang tersering, urutan ketujuh, yang ditemukan pada suatu studi epidemiologi USA. Perasaan kelelahan kerja merupakan gejala tersering yang dikeluhkan oleh pekerja yang datang ke balai-balai pengobatan. Penyakit akibat kerja disebabkan oleh faktor psikis yaitu 75%. Kelelahan kerja terbukti memberikan kontribusi lebih dari 50% dalam kejadian kecelakaan kerja di tempat kerja (Setyawati, 2010).

 

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Variabel yang akan diteliti yaitu variabel bebas kualitas tidur dan beban kerja fisik, variabel terikat yaitu perasaan kelelahan kerja, dan variabel pengganggu yaitu faktor lingkungan, masa kerja dan umur. Penelitian ini dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Populasi dalam penelitian ini adalah 76 perawat, Sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 44 perawat. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner untuk variabel kualitas tidur dan perasaan kelelahan kerja, dan pengukuran denyut nadi pada variabel beban kerja fisik. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistic Chi Square.

 

Hasil dan Pembahasan

A.   Hasil Penelitian

1.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta milik Pimpinan Pusat Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan sebagai Ketua Persyarikatan Muhammadiyah atas inisiatif muridnya, K.H. Sudjak, yang pada awalnya berupa klinik dan poliklinik pada tanggal 15 Februari 1923 dengan lokasi pertama di kampung Jagang Notoprajan No.72 Yogyakarta.

Bersamaan dengan berkembangnya berbagai amal usaha di bidang kesehatan, termasuk di dalamnya adalah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta maka Pimpinan Pusat perlu mengatur gerak kerja dari amal usaha Muhammadiyah bidang kesehatan melalui Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No 86/SK-PP/IV-B/1.c/1998 tentang Qaidah Amal Usaha Muhammadiyah Bidang Kesehatan. RS PKU Muhammadiyah Gamping Memiliki Semboyan dalam pelayanan yaitu “AMANAH” yang merupakan kependekan dari: Antusias, Mutu, Aman, Nyaman, Akurat dan Handal.

2.    Karakteristik Responden


 

Tabel 1

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Umur, dan Masa Kerja

Karakteristik Responden

Jumlah

Persentase (%)

Jenis Kelamin

 

 

Perempuan

30

68.18%

Laki-laki

14

31.81%

Total

44

100%

Umur (Tahun)

 

 

20-24

13

29.54%

25-29

28

63.63%

30-34

2

4.54%

35-40

1

2.27%

Total

44

100%

Masa Kerja

 

 

< 3 Tahun

32

72.72%

≥ 3 Tahun

12

27.27%

Total

44

100%

            Sumber: data primer tahun 2019

 


Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin dapat diketahui mayoritas responden yaitu responden dengan jenis kelamin perempuan yang berjumlah 30 orang (68.18%). Distribusi responden berdasarkan kelompok umur mayoritas responden yaitu responden dengan umur 25-29 yang berjumlah 28 orang (63.63%). Distribusi responden berdasarkan masa kerja mayoritas responden yaitu responden dengan masa kerja < 3 tahun yang berjumlah 32 orang (72.72%).

3.    Analisis Univariat


 

Tabel 2

Distribusi Frekuensi Kualitas Tidur, Beban Kerja Fisik, dan Perasaan Kelelahan Kerja

Variabel

Jumlah (N)

Persentasi (%)

Kualitas Tidur

 

 

Kualitas Tidur Buruk

18

40.9%

Kualitas Tidur Baik

26

59.1%

Total

44

100%

Beban Kerja Fisik

 

 

Berat

17

38.6%

Ringan

27

61.4%

Total

44

100%

Perasaan Kelelahan Kerja

 

 

Lelah

24

54.4%

Tidak Lelah

20

45.5%

Total

44

100%

Sumber: data primer tahun 2019

 


Pada tabel 2, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas tidur yang baik yaitu sebesar 59.1%, responden yang memiliki beban kerja fisik ringan yaitu sebesar 61.4%, dan responden yang memiliki perasaan kelelahan kerja yaitu sebesar 54.4%.

4.    Analisis Bivariat


 

Tabel 3

Hubungan Kualitas Tidur, Beban Kerja Fisik Terhadap Perasaan Kelelahan Kerja

Variabel

Perasaan Kelelahan Kerja

Total

 

Sig.

RP

CI 95%

Kualitas Tidur

Lelah

Tidak Lelah

 

F

%

F

%

F

%

Kualitas Tidur Buruk

4

9.1

14

31.8

19

40.9

0.001

 

0.289

 

0.119

-

0.703

Kualitas Tidur Baik

20

45.5

6

13.6

27

59.1

Jumlah

24

54.5

20

45.4

44

100

 

 

Beban Kerja Fisik

Berat

14

31.8

3

6.8

17

38.6

0.009

 

 

2.224

 

 

1.297

-

3.811

Ringan

10

22.7

17

38.6

27

61.4

Jumlah

24

54.5

20

45.5

44

100.0

Sumber: data primer tahun 2019

 


Hasil analisis bivariat antara kualitas tidur terhadap perasaan kelelahan kerja dengan meggunakan uji Chi-square diperoleh hasil analisis bivariat yang menunjukan nilai p = 0.001 < α = 0.05 (p<α) maka Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kualitas tidur dengan perasaan kelelahan kerja. Nilai RP 0.289 (<1) dengan CI 95% (0.119-0.703) yang artinya ada kualitas tidur menjadi faktor protektif terhadap perasaan kelelahan kerja.

Hasil analisis bivariat antara beban kerja fisik terhadap perasaan kelelahan kerja dengan menggunakan uji Chi Square diperoleh hasil analisis bivariat yang menunjukan nilai p = 0.009 α 0.05 (p<α) maka Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara beban kerja fisik dengan perasaan kelelahan kerja. Nilai RP 2.224 (>1) dengan CI 95% (1.297-3.811) yang artinya orang yang memiliki beban kerja fisik buruk berisiko 2.224 kali lebih besar untuk mengalami perasaan kelelahan kerja dibandingkan dengan orang yang memiliki beban kerja fisik baik.

B.   Pembahasan

RS PKU Muhammadiyah Gamping ini memiliki rotasi shift kerja yang terdiri dari shift pagi (07.00-14.00), shift siang (14.00-21.00) dan shift malam (21.00-07.00). Jam efektif setiap shift ini berbeda untuk shift pagi dan siang 8 jam kerja dan untuk shift malam 10 jam kerja. Menurut UU no 13 Tahun 2013 tentang ketenagakerjaan pasal 77 ayat 2 (b) yang berbunyi “8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu”. Apabila melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 77 ayat 2 ini harus memenuhi syarat berdasarkan pasal 78 ayat 1 yang berbunyi “ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan dan waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) minggu (Indonesia, 2006).

1.    Hubungan kualitas tidur terhadap perasaan kelelahan kerja

Hasil analisis bivariate pada penelitian yang telah dilaksanakan dapat diketahui bahwa perawat yang mengalami kualitas tidur tidak baik dan mengalami perasaan kelelahan kerja sebesar 4 perawat (9.1%), sedangkan yang mengalami kualitas tidur tidak baik dan tidak mengalami perasaan kelelahan kerja sebesar 14 perawat (31.8%), responden yang mengalami kualitas tidur baik tetapi mengalami perasaan kelelahan kerja sebesar 20 perawat (45.5%), dan responden yang mengalami kualitas tidur baik dan tidak terjadi perasaan kelelahan kerja sebesar 6 perawat (13.6%). Hasil analisis data dengan menggunakan chi square diperoleh nilai p = 0.001 dan α = 0.05 yang berarti p value < α artinya ada hubungan antara kualitas tidur dengan perasaan kelelahan kerja pada perawat rawat inap kelas 3 di RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Penelitian ini sebanding dengan penelitian lainnya, berdasarkan hasil uji statistic Chisquare diperoleh nilai p-value=0,0001, yang berarti terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pada karyawan bagian produksi PT. Arwana Anugrah Keramik, Tbk. Sebanyak 41 orang karyawan bagian produksi PT. Arwana Anugrah Keramik, Tbk memiliki kualitas tidur yang buruk (Juliana, Camelia, & Rahmiwati, 2018).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian lainnya dengan hasil dari uji korelasi bivariate menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara gangguan tidur dan tingkat kelelahan subjek (p = 0,024). Nilai r yang positif menunjukkan semakin tinggi gangguan tidur semakin tinggi juga tingkat kelelahan subjek (Wulandari & Luh Made, 2015).

Semakin tinggi tingkat kelelahan yang dialami responden maka kualitas tidurnya jadi semakin buruk. Begitu pula apabila tingkat kelelahannya semakin rendah maka kualitas tidurnya menjadi semakin baik. Kelelahan yang didapatkan seseorang dari kerja yang melebihi batas kemampuan seseorang, akan menyebabkan beban kelalahan ini yang akan mengganggu proses tidurnya. Apabila proses tidur sudah terganggu, maka kualitas tidur yang diharapkan tidak akan tercapai (Wicaksono, 2012). Kualitas tidur yang didapat oleh perawat ini diakibatkan karena jam tidur yang digunakan untuk bekerja sehingga kebutuhan tidur 7-8 jam perhari tidak terpenuhi.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kelelahan diantaranya adalah kualitas tidur yang akan mengakibatkan seseorang mengalami gangguan tidur. Dalam keadaan ini dapat disimpulkan bahwa antara gangguan tidur dan kelelahan memiliki hubungan yang signifikan (Wadsworth, Allen, McNamara, & Smith, 2008).

Perawat yang diteliti memiliki umur paling banyak pada rentang usia dewasa yaitu umur 22-40 tahun. Usia bisa menjadi faktor yang menyebabkan shift kerja dengan gangguan pola tidur tidak berhubungan karena peneliti mengambil responden dengan rentang usia 25-50 tahun. Dimana usia tersebut baik untuk bekerja shift karena apabila usia <25 tahun atau >50 tahun merupakan rentan terhadap gangguan tidur, sehingga tidak dianjurkan untuk kerja shift (Wadsworth et al., 2008).

Perawat pada rawat inap kelas 3 ini selain kebanyakan berusia muda juga memiliki masa kerja < 5 tahun, Gangguan kualitas tidur lebih banyak pada perawat yang mengalami masa kerja shift kurang dari 4 tahun (Thayeb, Kembuan, & Khosama, 2015).

Perawat dengan shift kerja malam ini memerlukan waktu istirahat, Tubuh sangat memerlukan waktu istirahat, dan waktu istirahat yang tepat untuk perbaikan setiap sel tubuh adalah saat seseorang tidur (Wadsworth et al., 2008). Pemberian beberapa kali istirahat pendek selama waktu kerja lebih efisien dari pada istirahat panjang yang hanya diberikan satu kali saja (Saraswati & Paskarini, 2018).  Tidur selama 20 – 40 menit pada saat shift malam (misalnya antara jam 2 – 3 pagi) nyatanya memiliki manfaat selayaknya tidur siang yang dilakukan sebelum shift  malam (Nisa & Martiana, 2013).

2.    Hubungan beban kerja fisik terhadap perasaan kelelahan kerja

Hasil analisis bivariat pada penelitian yang telah dilaksanakan dapat diketahui bahwa perawat yang mengalami beban kerja fisik berat dan mengalami perasaan kelelahan kerja sebanyak 14 perawat (31.8%), sedangkan responden dengan beban kerja ringan dan tidak mengalami perasaan kelelahan kerja sebanyak 3 perawat (6.8%), responden dengan beban kerja fisik berat dan mengalami perasaan kelelahan kerja sebesar 10 perawat (22.7%), dan responden yang mengalami beban kerja fisik berat akan tetapi  tidak terjadi perasaan kelelahan kerja sebesar 17 perawat (38.6%). Hasil analisis data dengan menggunakan uji chi square diperoleh nilai p = 0.009 dan α = 0.05 yang berarti p value < α artinya ada hubungan antara beban kerja fisik terhadap perasaan kelelahan kerja pada perawat rawat inap kelas 3 di RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Sebagian besar perawat rawat inap kelas 3 ini berjenis kelamin perempuan yang berjumlah 30 orang. Kekuatan fisik wanita 2/3 dari kekuatan otot laki-laki (Wowo, 2014). Tenaga kerja perempuan yang bekerja malam sampai pagi hari mempunyai pengaruh kurang baik bagi kehidupan rumah tangganya, baik dalam kaitannya dengan suami maupun anak-anak. Bagi yang belum menikah pengaruh negatif tersebut terutama dari segi pergaulan dan kesusilaan (Anies, 2014).

Penelitian ini sebanding dengan penelitian lainnya dengan hasil analisis chi-square yang telah dilakukan, maka beban kerja mempunyai hubungan yang signifikan dengan kelelahan kerja. Hal ini karena nilai p value < α yakni 0,000 > 0,05 (Maharja, 2015).

Hasil dari penelitian lainnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan searah dan kuat antara beban kerja fisik dan kelelahan kerja yang menandakan bahwa semakin tinggi beban kerja fisik, maka semakin tinggi pula tingkat kelelahan kerja yang akan dialami (Suryani & Wulandari, 2009).

Namun penelitian ini berbeda dengan penelitian lainnya, hubungan antara beban kerja responden dengan kejadian kelelahan dianalisis menggunakan uji korelasi diperoleh nilai p = 0.618 α = 0.05 (p>α) maka Ho diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara beban kerja dengan kelelahan yang dirasakan oleh perawat di RSUD dr. Mohamad Soewandhi (Perwitasari & Tualeka, 2014).

Selama proses kerja yang melibatkan aktifitas fisik, nadi kerja akan terus meningkat sejalan dengan semakin tingginya beban kerja fisik yang dikerjalan oleh seorang pekerja (Kusgiyanto, Suroto, & Ekawati, 2017). Kaitan denyut nadi lebih tinggi pada shift malam juga ada hubungannya terhadap kelelahan yang mana juga pada shift malam tingkat kelelahan responden cendrung lebih tinggi (Kodrat, 2011).

Beban kerja turut mempengaruhi dan berdampak pada fisik dan psikis sehingga dapat menimbulkan kelelahan dan mengganggu kinerja pekerja karena dapat mempengaruhi hasil pekerjaan yang dilakukan (Triana, Ekawati, & Wahyuni, 2017).

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan jika ada hubungan antara kualitas tidur, beban kerja fisik terhadap perasaan kelelahan kerja pada perawat rawat inap kelas 3 di RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Rumah sakit diharapkan meninjau kembali jadwal shift kerja seperti pada pembagian shift kerja yang teratur setiap minggunya, menegaskan dalam pembagian shift kerja sehingga tidak berdasarkan request perawat, karena untuk menjaga kesegaran dan kewaspadaan pada saat bekerja agar kualitas pekerja tetap terjaga.  Bagi perawat shift malam diberikan penyuluhan tentang pentingnya tidur dan istirahat yang akan mempengaruhi kualitas tidur. Perawat disarankan untuk istirahat sebelum bekerja dinas malam agar dapat bekerja secara optimal. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan meneliti mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas tidur pada perawat dinas malam.

.

 

BIBLIOGRAFI

Anies. (2014). Kedokteran Okupasi Berbagai Penyakit Akibat Kerja dan Upaya Penanggulangan dari Aspek Kedokteran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

 

Indonesia, Presiden Republik. (2006). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

 

Japardi, I. (2002). Peroneal Neuropathy. Dr ISKANDAR JAPARDI Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara. Sumatra Utara.

 

Juliana, Mariani, Camelia, Anita, & Rahmiwati, Anita. (2018). Analisis faktor risiko kelelahan kerja pada karyawan bagian produksi PT. Arwana anugrah keramik, tbk. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 9(1), 53–63.

 

Kemenkes. (2018). Info Datin Pusat Data Dan Informasi Kementerian Kesehatan RI Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

 

Kodrat, Kimberly Febrina. (2011). Pengaruh shift kerja terhadap kelelahan pekerja pabrik kelapa sawit di pt. x labuhan batu. Jurnal Teknik Industri, 12(2), 110–117.

 

Kusgiyanto, Wahyu, Suroto, Suroto, & Ekawati, Ekawati. (2017). Analisis Hubungan Beban Kerja Fisik, Masa Kerja, Usia, Dan Jenis Kelamin Terhadap Tingkat Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian Pembuatan Kulit Lumpia Di Kelurahan Kranggan Kecamatan Semarang Tengah. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 5(5), 413–423.

 

Maharja, Rizky. (2015). Analisis tingkat kelelahan kerja berdasarkan beban kerja fisik perawat di instalasi rawat inap rsu haji surabaya. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 4(1), 93–102.

 

Nisa, Agustina Zahrotun, & Martiana, Tri. (2013). Faktor yang Memengaruhi Keluhan Kelelahan pada Teknisi Gigi di Laboratorium Gigi Surabaya. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 2(1), 61–66.

 

Perwitasari, Dita, & Tualeka, Abdul Rohim. (2014). Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja Subjektif Pada Perawat di RSUD DR. Mohommad Soewandhi Surabaya. The Indonesian Journal of Safety, Health And Environment, 1(1), 15–23.

 

Saraswati, Ayu Wanda, & Paskarini, Indriati. (2018). Hubungan Gangguan Tidur Pada Pekerja Shift Dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Di Terminal Petikemas. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 7(1), 72–80.

 

Setyawati, Lientje. (2010). Selintas tentang kelelahan kerja. Yogyakarta: Amara Books, 28–33.

 

Suryani, Dyah, & Wulandari, Yanuk. (2009). Hubungan antara beban kerja, stres kerja dan tingkat konflik dengan kelelahan kerja perawat di rumah sakit islam Yogyakarta PDHI Kota Yogyakarta. Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Daulan, 3(3), 24895.

\

Thayeb, Ricky R. T. A., Kembuan, Mieke A. H. N., & Khosama, Herlyani. (2015). Gambaran Kualitas Tidur Pada Perawat Dinas Malam Rsup Prof. dr. rd Kandou Manado. E-CliniC, 3(3).

 

Triana, Estu, Ekawati, Ekawati, & Wahyuni, Ida. (2017). Hubungan Status Gizi, Lama Tidur, Masa Kerja dan Beban Kerja dengan Kelelahan Kerja pada Mekanik Di Pt X Plant Jakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 5(5), 146–155.

 

Wadsworth, Emma J. K., Allen, Paul H., McNamara, Rachel L., & Smith, Andrew P. (2008). Fatigue and health in a seafaring population. Occupational Medicine, 58(3), 198–204.

 

Wicaksono, Dhimas Wahyu. (2012). Analisis faktor dominan yang berhubungan dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Fundamental and Management Nursing Journal, 1(1), 46–58.

 

Wowo, Sunaryo Kusmawan. (2014). Ergonomi dan K3 Kesehatan Keselamatan Kerja. Bandung: PT. Pemaja Rosdakarya Bandung.

 

Wulandari, Igan, & Luh Made, Isha. (2015). Hubungan Gangguan Tidur dengan Kelelahan pada Sistem Kerja Bergilir (Shift) Malam terhadap Karyawan Minimarket 24 Jam di Kota Denpasar. Jurnal Ergonomi Indonesia [e-Journal], 1(1), 51–60.