ANALISIS FAKTOR RISIKO Musculoskeletal Disorders (MSDs) DAN KELUHAN MSDs PADA BURUH GENDONG PEREMPUAN DI PASAR INDUK GIWANGAN YOGYAKARTA

 

Cipta Wandya Puspitasari1*, Julian Dwi Saptadi2

1,2Fakultas Kesehatan Masyarakat,Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

ciptawandyp@gmail.com

* corresponding author

 

 

ABSTRAK

 

 

Article history

Received: 17 Mei 2023

Revised : 28 Mei 2023

Accepted  19 Juni 2023:

 

Telah dilakukan penelitian analisis faktor risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) dan keluhan MSDs pada buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan Yogyakarta dua faktor yang di analisis dalam penelitian ini adalah postur kerja dan masa kerja serta mengetahui keluhan MSDs pada buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif dengan menggunakan instrument penelitian yaitu Nordic Body Map untuk mengetahui keluhan MSDs serta Rapid Entiere Body Assesment untuk mengetahui postur kerja pada buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan Yogyakarta. Data penelitian menggunakan data primer dan data sekunder dengan 7 informan. Masa kerja buruh gendong perempuan pasar induk giwangan Yogyakarta >10 tahun bekerja sebagai buruh gendong dan masa kerja paling lama yaitu 40 tahun menjadi buruh gendong. Postur kerja buruh gendong pasar induk giwangan Yogyakarta jika diukur dengan REBA hasil adalah highr risk/risiko tinggi. Keluhan paling banyak dirasakan oleh buruh gendong pasar induk giwangan yaitu kaki,dan punggung.

 

 

Keywords

Musculoskeletal disorders, Buruh gendong, Pasar induk giwangan, Faktor risiko

 

 


1.    Pendahuluan


Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) salah satu provinsi dengan kenaikan penduduk yang cukup tinggi hingga 2019 jumlah penduduk di DIY mencapai 3,842,932 jiwa, hal ini tidak diimbangi dengan perluasan lapangan pekerjaan dan dipersulit dengan lahan pertanian di Yogyakarta dengan adanya pembangguan yang selalu ada setiap tahunnya Semakin sempitnya sektor pertanian atau lahan pertanian membuat masyarakat beralih ke sektor jasa dan perdagangan atau bisa dikategorikan dalam jenis sektor informal. Sedangkan sektor informal sediri identik dengan pekerja perempuan yang juga terlibat didalamnya, banyak perempuan yang melakukan pekerjaan informal baik membuka usaha ataupun bekerja dalam sektor jasa (Isti’Any & Pitoyo, 2016).

Muskuloskeletal adalah keluhan yang dirasakan oleh seseorang atau pekerja dari keluhan yang ringan maupun kelungan yang sangat sakit pada bagian Muskuloskeletal yang meliputi saraf, sendi, otot, maupun tulang belakang akibat dari pekerjaan yang tidak seharusnya atau tidak alamiah (Tarwaka, 2015). Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) di Indonesia sangat banyak ragamnya, ada beberapa keluhan yang dirasakan berbagai bagian tubuh jika di presentasikan pekerja yang mengalami cidera otot bagian bawah 80%,punggung 40%,bahu 20%,pinggang kebelakang 40%,pinggul kebelakang 20%,pantat 20%,paha 40%,lutut 60%,dan juga betis 80% data ini didapat dari (International  Labour Organzation, 2018)

Buruh gendong atau kuli panggul merupakan pekerjaan yang menjual jasanya mengangkat atau menggendong barang dari tempat satu ketempat lainya yang dimana biasanya masih dengan sistem manual handling, pekerjaan ini memiliki beban kerja yang cukup tinggi dan memiliki risiko yang dapat dikatakan tinggi dalam hal kesehatan maupun keselamatan kerja. Seharusnya setiap beban yang diterima atau diangkat oleh pekerja buruh gendong seharusnya sama dengan kemampuan fisik pekerja tersebut begitu juga dan juga harus sesuai dengan keterbatasan pekerja itu sendiri. (Raraswati, Sugiarto, & Yenni, 2020) Buruh gendong banyak terdapat di pasar-pasar besar seperti pasar induk giwangan,Pasar Giwangan merupakan pasar induk buah dan sayur yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pasar ini adalah pasar yang khusus menjual buah dan sayur dengan kapasitas besar di Yogyakarta. Pasar Giwangan memiliki luas bangunan 9.774 m2 dengan jumlah pedagang yang mencapai 880 jiwa.(Dinas Pengolahan Pasar Kota Yogyakarta, 2017)

Tingginya aktifitas jual beli yang dilakukan di pasar ini yaitu 24 jam nonstop membuat para buruh gendong perempuan ini juga memiliki waktu kerja yang lama, proses angkat barang di pasar ini masih menggunakan tenaga manusia yang dilakukan dengan jarak cukup jauh dan dilakukan secara berulang hal ini dapat memiliki risiko terjadinya gangguan Musculoskeletal Disorders (MSDs). Setelah dilakukan survei pendahuluan di pasar giwangan pada tanggal 21 Juni 2020 terdapat banyak buruh gendong dan kuli panggul yang bekerja setiap harinya, di pasar ini terdapat 137 buruh gendong perempuan yang setiap harinya melakukan kegiatan menggendong barang,buruh gendong wanita di pasar Giwangan ini tergabung dalam satu yayasan yaitu Yayasan Annisa Swasti (YASANTI).

 

2.    Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualitatif deskriptif, deskriptif adalah pengumpulan data atau mengumpulkan data berdasarkan faktor – faktor yang menjadi pendukung dari objek penelitian kemudian faktor – faktor tersebut dianalisis dan dicari peranannya terhadap objek(Arikunto S, 2010) dengan metode sampling yaitu purposive sampling.

Penelitian ini dilakukan dengan 7 informan total diantaranya 6 informan uji dan 1 yang akan menjadi informan kunci dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan instrument penelitian Nordic Body Map dan juga pedoman wawancara, Nordic Body Map digunakan untuk mengetahui keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) yang dirasakan oleh pekerja, keluhan MSDs tersebut akan diketahui dengan cara menggunakan kuesioner yang didalam kuesioner tersebut terdapat beberapa jenis keluhan MSDs pada peta tubuh manusia (Dewi, 2020), jenis data yang terdapat pada penelitian ini adalah jenis data sekunder dan data primer.

 

3.       Hasil dan Pembahasan

Didapat dari hasil penelitian di pasar induk Giwangan Yogyakarta sebagai berikut :


Table 1. Hasil Daftar Informan dan Masa Kerja

No

Inisial

Jenis Kelamin

Umur

Masa Kerja

Informan

1

S

P

49 th

15 th

Informan Kunci

2

K

P

55 th

40th

Informan 1

3

I

P

32 th

15 th

Informan 2

4

Y

P

42th

15 th

Informan 3

5

N

P

55 th

25 th

Informan 4

6

R

P

48 th

20 th

Informan 5

7

N

P

48 th

30 th

Informan 6


Informasi yang didapat dari table 1 adalah bahwa terdapat 6 informan uji dan 1 informan kunci dengan masa kerja dan umur yang berbeda – beda, masa kerja paling lama pada buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan Yogyakarta adalah 40tahun dengan umur pekerja 55tahun, untuk masa kerja paling sedikit atau sebentar adalah 15 tahun terdapat pada tiga informan dengan usia 49 tahun ,32 tahun dan 42 tahun . hal ini membuktikan bahwa pada rata – rata pekerjaan sebagai buruh gendong memang >10 tahun. Masa kerja yang dapat dikatakan cukup lama dengan kegiatan aktifitas sehari- hari yang berat.

Masa kerja merupakan faktor yang berkaitan dengan lama seseorang dalam bekerja, MSDs merupakan salah satu kelainan otot yang memerlukan waktu yang lama untuk dapat menimbulkan gejalanya. Sehingga semakin lama masa kerja seseorang semakin tinggi pekerja tersebut akan mengalami gangguan MSDs. (Shobur, Maksuk, & Sari, 2019) Bagi buruh gendong dengan masa kerja >10 tahun memungkinkan terjadinya MSDs.

Masa kerja berpengaruh bagi seorang pekerja terutama pada jenis pekerjaan yang menggunakan kekuatan besar, kekuatan besar adalah jenis pekerjaan yang dimana pekerja diharuskan menggunakan tenaga dalam tubuhnya yang besar. Masa kerja sendiri merupakan aktivitas kerja seseorang yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama, jika seorang pekerja melakukan aktivitas dalam jangka waktu yang lama maka akan menimbulkan gangguan pada tubuh khususnya pada bagian tubuh otot. terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan keluhan MSDs pada nelayan hal ini menunjukan bahwa semakin lama seseorang bekerja maka semakin tinggi tingkat risiko MSDs (Oley, Suoth, & Asrifuddin, 2018)

Masa kerja yang lama tentu mempengaruhi tingkat risiko MSDs, buruh gendong di pasar induk giwangan ini memiliki masa kerja yang tidak sebentar, mereka memiliki rata rata masa kerja diatas 10 tahun bahkan ada buruh gendong yang memiliki masa kerja yaitu 40 tahun dengan pekerjaan yang sama. Penelitian yang di lakukan pada buruh angkut LPG bahwa terdapat hubungan antara masa kerja dengan keluhan MSDs pada buruh angkut LPG tersebut. Buruh angkut LPG dengan masa kerja >5 tahun lebih banyak mengeluhkan keluhan MSDs. Dengan hal ini mempunyai kesamaan pada penelitian ini buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan memiliki masa kerja >10 tahun hal ini merupakan masa kerja yang tidak sebentar jika dalam penelitian yang dilakukan pada buruh angkut LPG yang masa kerja >5tahun sudah menimbulkan keluhan MSDs maka untuk buruh gendong di pasar induk Giwangan Yogyakarta dengan masa kerja >10 tahun merupakan faktor risiko yang dapat menimbulkan keluhan MSDs (Komarliawati, 2018).

 

Gambar  1. Hasil pensudutan postur kerja buruh gendong

 

Bekerja dalam postur tubuh janggal dapat menyebabkan suatu kebiasaan yang mempunyai dampak yaitu pergerakan atau pemendekan jaringan lunak dan otot. Dengan posisi kerja yang tidak alamiah akan memnyebabkan gerakan otot yang tidak seharunya bergerak, hal tersebut akan menyebabkan boros energi terhadap pekerja sehingga pekerja membutuhkan energi yang banyak pula. Dan juga transfer tenaga dari otot ke jaringan rangka tidak efisien sehingga hal tersebut dapat menimblkan kelelahan (Devi, Purba, & Lestari, 2017)

Buruh gendong perempuan dipasar induk giwangan Yogyakarta sudah lama menggunakan postur kerja membungkuk dan setiap hari digunakan untuk bekerja sebagai buruh gendong. Posisi membungkuk pada saat menggendong dirasakan nyaman oleh buruh gendong perempuan karena tidak ada posisi pilihan lain yang bisa digunakan untuk menggendong. Para butuh gendong tidak merasakan sakit pada punggung ketika menggendong dengan posisi membungkuk.

Faktor pekerjaan salah satunya adalah postur kerja, bekerja dengan sikap yang tidak alamiah adalah salah satu faktor yang menyebabkan bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiahnya. Semakin jauh tubuh bergerak menjauhi gravitasinya maka semakin tinggi pula terjadi keluhan otot skeletal,sikap tidak alamiah pada saat bekerja pada umumnya karena tidak sesuaian pekerjaan dengan kemampuan pekerja (Rinawati, 2016)

Postur tubuh yang buruk dan juga metode kerja yang salah dan terlalu kuat dapat menyebabkan kerusakan permanen tubuh dan jaringan. Penting halnya untuk mengevaluasi postur tubuh yang baik dan tidak karena pekerja tidak sengaja menggunakan postur kerja yang buruk tersebut evaluasi ini yang nantinya bisa digunakan untuk memperbaiki desain pekerjaan dan tempat kerja. Para pekerja menggunakan postur tubuh yang salah karena terpaksa menggunakanya karena karakteristik tugas dan desain pekerjaan yang buruk (McKeown, 2008).

Dianalisis dengan menggunakan REBA (Rapid Entiere Body Assesment) bahwa pada buruh gendong pasar induk giwangan Yogyakarta postur kerja memiliki risiko yaitu high risk yang artinya adalah memiliki risiko tinggi dengan bentuk tubuh pada saat bekerja dinilai dengan menggunakan lembar kerja REBA. Buruh gendong pasar induk giwangan Yogyakarta ini semua menggunakan postur kerja yang sama sehingga hasil yang didapatkan juga sama yaitu high risk atau memiliki risiko tinggi

Terdapat hubungan antara postur kerja dengan risiko keluhan MSDs pada kuli panggul di pasar Gede Surakarta, penelitian ini mendapatkan hasil bahwa posisi kerja atau postur kerja dengan keluhan MSDs itu memiliki hubungan, dalam penelitian ini juga menggunakan instumen yaitu REBA (Rapid Entiere Body Assesment) dengan hasil sangat tinggi yang dimana mengalami keluhan MSDs (Asmara, 2018).

Dari hasil Nordic Body Map yang sudah diberikan oleh buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan Yogyakarta paling banyak dirasakan keluhan pada bagian kaki yaitu dengan kategori sakit. Untuk bagian lain yang merasakan sakit yaitu ada pada bahu kanan dan kiri dengan kategori sakit.

Manual Handling masih banyak digunakan dalam banyak pekerjaan saat ini digunakan karena memiliki banyak keefektifitasan yaitu murah dan mudah di aplikasikan, namun demikian manual handling yang dilakukan memiliki risiko jika digunakan dalam sikap kerja yang salah. Risiko yang ada yaitu timbulnya low back pain dan juga cedera pada bagian otot skeletal yang risiko ini banyak disebabkan oleh aktivitas bekerja yang dilakukan dengan manual handling atau dengan cara yang masih tradisional (Saputro, 2016)

Pekerjaan yang dilakukan oleh buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan Yogyakarta merupakan salah satu dari manual handling atau manual lifting. Buruh gendong melakukan kegiatan menggendong barang setiap harinya, pekerjaan ini juga akan memiliki risiko dan keluhan yang ad ajika tidak dilakukan dengan baik dan tidak nyaman. Buruh gendong perempuan pasar induk giwangan memiliki keluhan paling banyak berada di bagian kaki hal ini tidak jauh dari pengaruh manual handling karena kegiatan yang dilakukan dengan manual akan memiliki risiko, mengangkat atau menggendong barang tentu akan bertumpu pada bagian kaki jika pengangkatan dilakukan dengan salah maka akan menjadikan sebuah keluhan.

 

4.       Kesimpulan

Masa kerja buruh gendong perempuan pasar induk giwangan Yogyakarta >10 tahun memiliki risiko terjadinya keluhan MSDs. Masa kerja yang tinggi tersebut merupakan salah satu faktor risiko yang akan membuat buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan akan semakin tinggi risiko nya terhadap MSDs. Postur kerja buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan Yogyakarta diukur dengan REBA memiliki tingkat risiko ada pada high risk atau memiliki risiko tinggi, risiko yang tinggi ini didapat dari postur kerja buruh gendong yang setiap harinya adalah beraktifitas dengan membawa beban berat. Postur kerja buruh gendong yang dilakukan setiap hari adalah postur kerja membungkuk. Postur kerja membungkuk ini dikatakan nyaman oleh buruh gendong perempuan karena posisi yang paling nyaman digunakan untuk menggendong barang adalah posisi membungkuk. Terdapat keluhan yang dirasakan pada buruh gendong perempuan di pasar induk giwangan Yogyakarta, jika dilihat dengan menggunakan Nordic Body Map keluhan yang paling banyak di rasakan adalah keluhan pada kaki kemudian keluhan pada punggung. Kaki merupakan tumpuan paling utama dalam aktifitas menggendong jadi keluhan yang paling banyak dilakukan adalah pada kaki.

 

BIBLIOGRAFI

Arikunto S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Asmara, Dyah PIinesthi. (2018). Hubungan Antara Postur Kerja Pada Pekerjaan Angkat-Angkut Dengan Keluhan Muskuloskeletal Kuli Panggul di Pasar Gede Surakarta. Высшей Нервной Деятельности.

Devi, Tiara, Purba, Imelda G., & Lestari, Mona. (2017). Faktor Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada Aktivitas Pengangkutan Beras di PT Buyung Poetra Pangan Pegayut Ogan Ilir. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 8(2), 125–134.

Dewi, Nur Fadilah. (2020). Identifikasi Risiko Ergonomi Dengan Metode Nordic Body. Jurnal Sosial Humaniora Terapan, 2(2), 125–134.

Dinas Pengolahan Pasar Kota Yogyakarta. (2017).

Isti’Any, Neily Nurul, & Pitoyo, Agus Joko. (2016). Pekerja Perempuan dalam Sektor Informal di Daerah Istimewa Yogyakarta Analisis Faktor Pengaruh Berdasarkan Susenas Kor 2014. Jurnal Bumi Indonesia, 5(4).

Komarliawati, Maulydiani Ahmad Djojosugito Eka Nurhayati. (2018). Hubungan Masa Kerja dengan Keluhan Muskuloskeletal pada buruh angkut LPG di PT X tahun 2018. (2), 56–62.

McKeown, Céline. (2008). A Guide to Human Factors and Ergonomics. In Ergonomics 51.

No Title. (2018). International Labour Organization 2018.

Oley, Ria Avilia, Suoth, Lery F., & Asrifuddin, Afnal. (2018). Hubungan Antara Sikap Kerja dan Masa Kerja dengan Keluhan Musculoskleletal pada Nelayan di Kelurahan Batukota Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung Tahun 2018. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(5).

Raraswati, Vina, Sugiarto, & Yenni, Melda. (2020). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Muskuloskeletal Pada Pekerja Angkat Angkut Di Pasar Angso Duo Jambi. Journal of Healthcare Technology and Medicine, 6(1), 441–448.

Rinawati, Seviana. (2016). Analisis Risiko Postur Kerja Pada Pekerja Di Bagian Pemilahan Dan Penimbangan Linen Kotor Rs. X. Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health, 1(1), 39.

Saputro, Adin Waluyo. (2016). Hubungan Risiko Pekerjaan Manual Handling dengan Keluhan Low Back Pain Pada Pekerja Bagian Penuangan Cor Logam Di PT. Aneka Adhilogam Karya Ceper Klaten. Skripsi.

Shobur, Sherli, Maksuk, Maksuk, & Sari, Fenti Indah. (2019). Faktor Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDS) Pada Pekerja Tenun Ikat Di Kelurahan Tuan Kentang Kota Palembang. Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan), 6(2), 113–122.

Tarwaka. (2015). Ergonomi Industri Dasar-Dasar Pengetahuan Ergonomi Dan Aplikasi di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan Pass.